PMB Bidikmisi 2017

 

Membaca tulisan praktisi sekaligus pengamat musik Indonesia yang amat kritis Suka Hardjana tentang “Lagu, Aransemen, dan Komponis” di dalam bukunya “Antara Kritik dan Apresiasi”, telah meyakinkan kembali pemikiran lama penulis untuk juga menulis hal yang serupa pada tulisan ini.

Dengan tidak bermaksud untuk meniru, menjiplak apalagi mem-plagiat-kan tulisan beliau (Suka Hardjana), maka persoalan ini terasa sangat urgen bagi penulis untuk mewacanakannya kepada kita semua. Penafsiran istilah komposer, arranger, dan penulis lagu yang selama ini salah alamat (bahkan mungkin saja salah arti), telah menimbulkan kerancuan bagi kita di dalam menggunakannya maupun memaknainya. Fakta menunjukkan, bahwa permasalahan ini juga terjadi di lingkungan sekitar kita (terutama musik).

 

Secara pribadi, penulis amat-sangat terganggu ketika ada statement mengatakan bahwa penulis lagu itu juga bisa dikatakan sebagai seorang komponis (apalagi mengakui diri sendiri) tanpa melihat kapasitas dan kapabilitas dari seseorang tersebut di dalam dunia seni musik. Juga mengabaikan beberapa kriteria dan persyaratan untuk bisa dikatakan sebagai seorang komponis. Ditambah lagi dengan event-event musik yang kerap kali mengguna kata komponis pada tema acara tersebut. Sementara kenyataan yang terlihat hanyalah baru pada takaran penulis lagu (song writer).

Untuk itu, perlu sekali kita ketahui dan pahami di dalam menggunakan kata komposer (komponis), arranger, penulis/penggubah lagu sebagai kata yang mempunyai arti sesuai dengan kapasitas dan fungsinya. Baiklah penulis akan coba uraikan menurut sepengetahuan penulis satu per satu dari masing-masing kata yang merupakan sebuah makna profesi yang lazim kita gunakan di dalam dunia seni musik.

1.      Komposer (Komponis)

Komposer adalah orang yang wilayah kerjanya di dalam seni musik sangat rumit, komplek dan tidak mudah untuk melakukannya. Wilayah kerja dari seorang komposer biasanya mencakup ke dua wilayah kerja dari seorang arranger dan penulis lagu. Membuat komposisi-komposisi baik itu musik maupun vokal yang dilakukan dengan menggunakan strukturisasi musik secara komprehensif, adalah sebuah perlakuan terhadap seni musik yang memerlukan berbagai aspek penunjang yang tidak bisa hanya dengan merenung sambil menunggu inspirasi datang sebagai mana yang sering dilakukan oleh penulis/penggubah lagu (dengan tidak bermaksud meremehkan penulis/penggubah lagu).

Tanpa pengetahuan musik yang memadai dan keterampilan serta peralatan penunjang lainnya yang mesti dimiliki di dalam melakukan tugasnya, sangat mustahil bila seseorang itu dapat dikatakan sebagai seorang Komposer (Komponis). Ini sangat berbeda sekali dengan penulis/penggubah lagu, yang terkadang tidak memerlukan salah satu hal yang disebutkan di atas. Selain dari itu, bagi seorang komposer, keterikatan akan sesuatu hal yang sudah jadi, tidak ada lagi di saat dia menuangkan ide-ide kreatifnya di dalam sebuah komposisi musiknya. 

Jadi, bagi seorang komposer tidak akan mengalami kendala yang berarti sekali ketika ianya hendak membuat sebuah aransemen dan lagu pada masing-masing bagiannya secara terpisah. Ini berarti, seorang komposer (komponis) hendaklah kita tempatkan dia di atas atau lebih dari dua profesi lainnya (arranger dan penulis lagu). Secara otomatis juga bisa kita katakan bahwa, seorang komposer adalah juga seorang arranger dan penulis lagu (song writer).

2.      Arranger

Sebuah lagu yang masih berupa lirik dan melodinya saja yang sudah dituliskan oleh penggubah lagu, memerlukan sebuah aransemen untuk bisa dinikmati sebagai sebuah lagu yang utuh untuk diperdengarkan kepada halayak ramai. Inilah tugas seorang arranger. Memberikan sentuhan dinamis, ritmis, serta bentuk musik dan lain sebagainya terhadap sebuah lagu tersebut, adalah tugas dari seorang penata musik. Yang selanjutnya bisa “mentransformasikan” aspirasi penulis lagu untuk ditransferkan kepada para pendengarnya kelak.

Tidak ubahnya seorang komposer, seorang arranger juga harus memiliki beberapa hal yang juga dimiliki oleh seorang komposer. Yaitu, pengetahuan, keterampilan serta peralatan musik yang tidak bisa ditawar-tawar pada sebuah proses penataan musik (aransemen). Terkadang seorang arranger mesti mengikuti perkembangan teknologi yang sangat dinamis terhadap peralatan yang selalu digunakan pada sebuah dapur rekaman profesional.

Sisi lain yang mesti juga dimiliki oleh seorang arranger adalah, kemampuan analisa terhadap sebuah lagu yang sudah jadi dibuat oleh penulis lagu. Ini tidak mudah. Karena lagu yang sudah jadi itu, jelas hasil pemikiran dan perenungan orang lain (penggubah lagu) yang tidak mungkin seutuhnya bisa diselami oleh orang lain lagi (arranger). Lain hal nya dengan cara kerja seorang komposer, penciptaan dari awal sampai akhir dari sebuah komposisi baik itu musik ataupun vokal, tetap dilakukan oleh komposer itu sendiri.

Persoalan teknis lain yang sering terjadi ialah, wujud sampel lagu yang diberikan kepada arranger sangat minim terkesan ala-kadarnya saja. Vokal yang bukan standar seorang penyanyi dan tak tuning, kaset yang sudah beberapa kali bekas direkam. Sukur-sukur ada salah satu alat musik yang dijadikan sebagai musik pengiring, tetapi tidak jarang juga hanya vokalnya saja yang ditambah dengan sedikit pola pukulan meja yang dijadikan pengatur tempo. Pendek kata penulis yakin dan percaya, kondisi seperti ini nyaris agak menghilangkan mood penata musik untuk mengerjakannya (pengalaman penulis yang pernah beberapa kali saja dipercaya meng-aransemen lagu). 

Perkembangan dari realitas dunia musik yang ada sekarang ini sudah cukup menggembirakan kita. Ada banyak penulis lagu juga sudah bisa mengaransemen lagu-lagu mereka menjadi sebuah kemasan yang utuh untuk diperdengarkan. Terutama dari kalangan grup musik baik nasional maupun daerah yang beraliran pop rock (Jamrud, Samson, Raja, Dewa, dsb), dari Riau sendiri Sagu Band, Tanjak dan masih banyak lagi yang tak mungkin disebutkan satu per satu pada tulisan ini.

3.      Penulis/Penggubah Lagu (Song Writer)

Sifat dan medan kerja dari penulis lagu ini, terpaut jauh bedanya dengan seorang            komposer maupun arranger. Ini bisa kita lihat dari kriteria seorang komposer dan           arranger (pengetahuan, keterampilan maupun peralatan musik) yang tak harus          seluruhnya  mesti dimiliki (baca: kuasai) oleh penggubah lagu tersebut. Walaupun        idealnya hal (kriteria) tersebut di atas juga harus dimiliki oleh si-penggubah lagu.  

Agaknya kurang tepat sekiranya penulis/penggubah lagu hanya membuat syair dan         melodi lagu tanpa ada iringan atau aransemen musik ataupun juga aransemen vokal, lalu     disandangkan prediket komponis (komposer) kepadanya. Jadi hendaklah kita bedakan         mana penggubah lagu yang sekaligus juga bisa disebut sebagai seorang komponis, mana          yang hanya sebagai penulis/penggubah lagu sahaja.

Penggubah lagu sekaligus seorang komponis, tentulah dengan kerja kreatifnya    menciptakan juga instrumentasi atau orkestrasi baik musik maupun vokal dari lagu yang         diciptakannya. Sementara penggubah lagu tanpa kerja kreatif tersebut, tentu tidak bisa           kita golongkan ke dalam kelompok yang disebut dengan komposer (komponis).

      Akhirnya sebelum menutup tulisan ini, mohon maaf yang sedalam-dalamnya, sekiranya ada pada tulisan penulis ini memberikan pemahaman yang bisa menyinggung perasaan pembaca sekalian. Tapi yang pasti, penulis tidak sedikitpun bermaksud untuk membeda-bedakan ketiga profesi tersebut di atas, yang notabene ketiga profesi tersebut juga masih dalam satu rangkaian kerja sama yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

      Artinya, penulis berharap dengan adanya tulisan ini akan lebih membuat kita arif dalam memahami sebuah profesi di dalam menciptakan teamwork yang tangguh demi perkembangan dan kemajuan seni musik di masa mendatang. Serta saling memahami dan menghargai terhadap porsi masing-masing, tanpa silang sengketa yang justeru akan berdampak negatif terhadap keberlangsungan seni musik itu sendiri.

 

 

Galeri Foto