PMB Bidikmisi 2017

Sumber : hukmi99.blogspot.comSumber : hukmi99.blogspot.comKesenian sebagai hasil cipta dan kreasi manusia, tidak hanya berkembang di pusat-pusat kota. Seni juga beriak sampai ke ceruk-ceruk kampung. Meskipun cuma riak, seni tetap sebagai “gerak hidup” dan menggeliat seiring dengan aktivitas lainnya yang ada di kampung atau desa.


Laporan FEDLI AZIS, Pekanbaru

ADAKALANYA dalam keseharian yang terpepat dengan kesibukan, segala bentuk kesenian yang ada seolah terlupakan dan keberadaan televisi yang menyuguhkan berbagai bentuk hiburan, semakin menambah keterlenaan. Lalu, kesadaran akan kepemilikan terhadap “sesuatu” baru terasakan ketika sesuatu datang menyentuhnya. Sentuhan itu bisa secara tidak langsung berupa cerita nostalgia atau langsung dengan menyuguhkan sepaket seni pertunjukan.

Program Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) yang saat ini naik peringkat jadi Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) mengarak karya keliling Riau membuktikan hal itu. Perjalanan yang memakan waktu empat hari tersebut seperti menjadi obat kerinduan bagi warga yang disinggahi. Menjadi “ketukan pintu” di mana orang-orang baru terjaga dan tersadar bahwa ada tamu yang datang. Tamu yang sebenarnya bukanlah orang asing tetapi sesuatu yang selama ini ada dan dekat sekali dengan mereka.

Salah seorang seniman Dumai, Darwis Muh Saleh mengakui hal itu. Ketika tim AKMR/STSR tampil di panggung Dewan Kesenian Dumai (DKD) beberapa hari yang lalu, Darwis menyebutkan apa yang telah dipersembahkan adalah sebuah upaya mengangkat batang terendam. Menurutnya, pertunjukan seni yang dikemas tim AKMR/STSR dalam bentuk sandiwara komedi merupakan bentuk kesenian yang dulunya berkembang di Dumai namun semuanya sekarang hanya tinggal cerita.

Meskipun dikemas dalam bentuk modern, diyakini dan dirasakan langsung oleh Darwis bahwa naskah lakon yang berjudul Akibat Tak Usul Perikasa karya Jefri al Malay itu merupakan hasil eksplorasi terhadap bentuk Sandiwara Bangsawan yang cukup berkembang di daerah Riau bagian pesisir. Ruh-ruh tradisinya begitu terasa hadir dalam setiap adegannya. “Yang menarik lagi, Sandiwara Bangsawan yang dalam pikiran kita memiliki pakem-pakem yang ketat dan kemudian harus dipentaskan dengan set dekor yang cukup memakan biaya ternyata dapat dihadirkan dalam bentuk minimalis dan sederhana tanpa mengabaikan elemen-elemen penting dalam pertunjukannya,” jelas Darwis.

Seharusnya kata Darwis lagi, beginilah pekerjaan yang dilakukan seniman teater di Dumai. Tidak perlu takut untuk terus menggali potensi yang dimiliki daerah dan jangan ragu membentangkan karya yang berangkat dari kekuatan dan kearifan lokal ke permukaan. Darwis juga menegaskan, agenda mengarak karya serupa ini seharusnya tidak hanya dipentaskan satu tempat di satu kabupaten. Paling tidak harus dipentaskan pada tiap-tiap kecamatan yang ada di kabupaten tersebut. “Apalagi di Dumai ini, saya yakin sekali akan mendapat sambutan luar biasa di tiap-tiap kecamatan karena bentuk dan gaya bahasa yang digunakan dekat dengan masyarakat di Dumai,” katanya.

Di Riau bagian pesisir dulunya, sandiwara bangsawan hadir di tengah-tengah masyarakat dengan membawa seperangkat alat-alat sandiwara dan mereka hadir dalam kurun waktu hampir sebulan di tiap-tiap kampung yang disinggahi. Di Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis misalnya, menurut Pimred Dumai Pos, Dawami yang juga hadir menyaksikan pertunjukan di Dumai tersebut mengatakan seingatnya waktu masih kecil dulu, grup sandiwara dari Medan bermain dengan kelengkapan yang luar biasa banyaknya. Mulai dari tirai, kostum kerajaan, singgasana raja, backdrop yang bergambar latar belakang hutan, laut, istana, taman dan lain-lain, yang semua itu dibentangkan sebagai bagian dari pertunjukan. Bila dibandingkan dengan pergelaran sandiwara komedi yang diusung kawan-awan dari AKMR/STSR tentulah jauh berbeda tetapi seingatnya gelagat dan permainan yang disuguhkan tidaklah jauh berbeda. Itu artinya kata Dawami, beginilah Sandiwara Bangsawan dalam bentuk modern. Seni ini dikemas dengan sederhana dan tidak menghilangkan unsur-unsur penting yang ada di dalamnya.

“Dulu waktu kecil, saya selalu juga nonton Sandiwara Bangsawan yang datang ke kampung saya. Kalau tidak silap, mereka menggelarkan sandiwara di samping SD 021 Bukit Batu sekarang ini. Meskipun tak begitu paham tapi seingat saya biasanya kumpulan itu sampai berbulan-bulan di setiap kampung yang disiggahinya. Dan setelah menyaksikan naskah lakon Akibat Tak Usul Periksa ini, saya seperti dibawa ke masa puluhan tahun yang lalu. Dan beginilah seharusnya sandiwara Riau modern,” kata Dawami yang merupakan anak jati diti Bukit Batu tersebut.

Dawami juga berkeyakinan, arakan karya ini bila dibawa berkeliling sampai ke kampung-kampung yang ada di Riau ini pastilah kemudian seni teater menjadi suatu yang diminati masyarakat bahkan bisa mengalahkan hiburan-hiburan yang dipertontonkan dari layar kaca televisi. “Apalagi kalau bisa karya serupa ini dipentaskan di sekolah-sekolah yang ada, saya kira di samping para siswa menjadi tahu bentuk Sandiwara Bangsawan yang pernah ada dulunya, mereka juga akan tergelitik hatinya untuk belajar. Pertunjukan sandiwara komedi seperti inikan bukan hanya semata hiburan, tetapi habis gelak terbekah-bekah ada pula pesan moral yang bisa dibawa pulang,” jelas Dawami lagi.

Lebih jauh dari itu, Seorang sastrawan Dumai, Ahlul Hukmi setelah mengapresiasi ragam pertunjukan seni di Panggung DKD tersebut mengatakan ada banyak kekayaan seni budaya yang dimiliki Provinsi Riau. Ragam dan bentuk itulah menurutnya merupakan kekuatan sebuah identitas. Program AKMR/STSR keliling Riau dapat dikatakan sebagai mengusung kekuatan tersebut. Upaya itu kemudian dapat pula membahagiakan masyarakat. Tampilan yang disuguhkan ternyata sangat menghibur dalam konteks itu dikatakannya hiburan yang tidak semata-mata hiburan tapi juga sekaligus memiliki fungsi pendidikan melalui amanat dan pesan dalam cerita.

Melihat keragaman seni dan budaya serta menilik eksistensi AKMR dan STSR yang menjadi barometer pasti, Ahlul Hukmi juga berpikir bagaimana pada 2014 ini seharusnya pemerintah bisa berpikir agar mendirikan SMK kesenian di semerata Riau. “Kenapa tidak? Saya melihat potensi-potensi itu. AKMR dan STSR menjadi barometernya.

Seni dan budaya sebagai ilmu yang dipelajari dari dasar di bangku sekolah yang kemudian dapat dilanjutkan dan dikembangkan ke sekolah tinggi seni,” katanya.

Sekretaris Dewan Kesenian Dumai, Agus S Alam dalam kesempatan itu menyebutkan hal serupa. Riau sebenarnya kaya sekali dengan seni dan budaya. Namun sampai hari ini tidak tergali sepenuhnya ditambah lagi peran pemerintah yang masih minim dalam hal itu. Kesenian tidak cukup hanya berupa tampilan seremoni-seremoni yang dipergelarkan di acara tertentu pada event di setiap kabupaten. Tetapi program mengarak karya keliling Riau inilah sepatutnya menjadi contoh dengan mendatangi kampung atau daerah, menggelarkan karya-karya kreatif.

“Bagi saya pribadi, tampilan AKMR/STSR menjadi ‘tamparan’ bahwa ke depannya kita harus berani berekspresi dan meningkatkan kreativitas dengan tetap mengedepankan kekuatan seni-seni lokal yang dikemas dalam bentuk kekinian. Saya menilai, arakan karya ini tidak cukup diarak di Riau saja bila perlu dihidangkan sampai di tingkat Nasional. Biar orang sana juga tahu bahwa jauh sebelumnya Riau sudah ada bentuk sandiwara komedi yang tak kalah menarik dari mereka,” kata Agus.

Sebelum ke Dumai, tim AKMR/STSR ini sudah pentas di Kabupaten Siak tepatnya di Kelurahan Sungai Mempura dalam helat yang ditaja Dewan Kesenian Siak (DKS), “Seniman Balik Kampung”. Selanjutnya tim yang dipimpin oleh Pembantu Ketua III, Eriyanto Hadi ini melanjutkan pentas di Kampung Sejangat-Kecamatan Bukit Batu-Kabupaten Bengkalis. Antusias sambutan masyarakat pun sangat menggembirakan. beramai-ramai mereka datang hanya untuk menyaksikan pertunjukan sandiwara komedi tersebut.

Salah seorang warga Sejangat, Ros (47) menyebutkan sandiwara yang dimainkan membuatnya teringat dengan bentuk seni pertunjukan yang sama ketika ia masih kecil. Tonil adalah sebutan pertunjukannya. Sebuah bentuk sandiwara komedi yang dulunya ditampilkan ketika hari-hari besar seperti tujuhbelasan, halal bi halal. “Dah lama betul tak tengok pertunjukan seperti ini. Pemain-pemain tonil dulu, semuanya dah almarhum, tak ada yang meneruskan di kampung ni lagi,” katanya usai menyaksikan pementasan.

Senada dengan itu, Eli (41) juga mengatakan kerinduannya seolah terobati dengan menyaksikan pertunjukan dari tim AKMR/STSR. Dulu sewaktu masih kecil, Tonil menjadi pertunjukan yang memang dinanti-nantikan di Sejangat, apalagi belum ada televisi. Beramai-ramai orang datang menyaksikan. Beberapa pelakunya yang sekarang sudah tak ada lagi, sempat menjadi idola di kampung ini seperti Alm. Atan Gani, Long Mamat, dan lain-lain. “Macam sekarang artislah misalnya. Ada juga yang ngefans sama pelaku-pelaku tonil itu dulu. Walau main dengan lampu strong king, masyarkat pasti betah sampai habis. Kalau istilah kampung kami, Betunggu tanggo,” jelas Eli.

Ketua KNPI Kecamatan Bukit Batu, Erwin Syahputra bersama rekan-rekannya yang turut menyukseskan pementasan di desa Sejangat itu mengusulkan seharusnya pementasan seperti ini dilakukan sebulan sekali. Katanya masyarakat sudah muak menonton lawak-lawak bodoh yang disuguhkan televisi. “Tengok sajalah, antusias masyarakat walaupun pentas di lapangan terbuka dengan lighting dan sound system yang tak maksimal tapi mereka semua cukup terhibur, rela berdatang-datang, merapat duduk beralas rumput untuk menyaksikan pentas dari kawan-kawan AKMR dan STSR dan betah sampai akhir bahkan tadi saya dengar ada yang menyeletuk cepat betul habisnya,” kata Erwin saat berbicang-bincang dengan tim AKMR/STSR usai pementasan.

Sambutan Tak Terduga
Sementara itu, Pembantu Ketua III, Eriyanto Hadi menyebutkan sambutan masyarakat dari program mengarak karya keliling Riau adalah hal yang tak terduga sama sekali. Begitu antusiasnya masyarakat membuatnya berpikir dan akan memperbincangkan hal ini dengan pihak kampus untuk melanjutkan program ini dengan pasukan yang lebih lengkap di 2014 mendatang.

Semula kata Eriyanto, program mengarak karya keliling Riau ini bertujuan untuk memperkenalkan kepada masyarakat Riau bahwa Riau sudah memiliki kampus seni yaitu Sekolah Tinggi Seni Riau yang terbagi ke dalam tiga jurusan, musik, tari, teater dan film. Di samping itu, program ini dapat pula menjadi ajang mahasiswa untuk melatih mental untuk tampil di hadapan audien dan sekaligus mempersiapkan mereka dalam hal seni pertunjukan. Karya-karya yang diusung tentu saja hasil dari eksplorasi dan ilmu yang didapat selama di bangku perkuliahan.

“Kalau kemudian ternyata mendapat sambutan yang seperti ini, tentu saja hal yang tak terduga sama sekali. Dan ini membuktikan bahwa kesenian tidak hanya perlu ditampilkan di gedung-gedung mewah saja tetapi ditampilkan dengan konsep sederhana di ceruk-ceruk kampung juga merupakan upaya dalam pelestarian, pengembangan terhadap kesenian itu sendiri, “ jelas Eriyanto.

Dari hasil diskusi dengan seniman-seniman di tempat yang disinggahi, kata Eriyanto hampir semua menyatakan kerinduan akan pementasan yang serupa ini. Ketika misalnya di sebuah daerah tidak memiliki gedung pertunjukan yang layak, maka tidak berarti pertunjukan seni tidak bisa dilaksanakan. Tampil dengan konsep minimalis, merupakan salah satu upayanya. Seperti yang dilakukan tim AKMR/STSR, kondisi apa yang ditemui di setiap daerah tidak mengurangi semangat untuk menampilkan yang terbaik. “Tampil di beberapa tempat dalam program ini terasa sekali, kesenian itu berada dekat dan akrab dengan masyarakat. Saya kira beginilah seharusnya eksistensi kesenian itu dalam sendi kehidupan,” jelas Eriyanto lagi.

Dalam program mengarak karya keliling Riau ini, AKMR/STSR terbagi dalam dua tim. Tim satu yang langsung dipimpin Eriyanto mengarak karya ke daerah Riau pesisir yakni, Kelurahan Sungai Mempura-Kabupaten Siak, Desa Sejangat-Kabupaten Bengkalis, Dumai dan Desa Bangko Pusako-Kabupaten Rokan Hilir. Sementara itu tim dua yang dikomandoi, Ketua Jurusan Tari, Syafmanefi Alamanda mengarak karya tari dan musik ke Riau bagian daratan, Airtiris-Kecamatan Basrah-Kuansing dan Kampar Kiri.

Disebutkan Syafmanefi Alamanda yang akrab dipanggil Nanda itu, penampilan mereka Alhamdulillah sukses. Paket karya yang terdiri dari tari tradisi Melayu berupa “Zapin Pecah 12”, “Mak Inang” dan aransment musik “Zapin” serta Tari Kontemporer yang berjudul Tali Berpilin Tiga mendapat sambutan baik dari masyarakat. Bahkan dinilai Nanda kerja sama yang diberikan masyarakat sangat membantu kelancaran pertunjukan. Di Air Tiris misalnya dibantu oleh Sanggar Tuah Sakato dan Sanggar Batobo Pimpinan Angku Lareh dan Warniati. Di Kuansing dibantu oleh Sanggar Seni Laksemana Bukit Berbunga Basrah pimpinan Oktiber Windra sedangkan di Kebun Durian dibantu Sanggar Seni Kebun Durian Pimpinan Feri dan Naim.

“Selain penampilan, kami juga memberikan sedikit workshop tentang tari dan musik untuk tari serta diskusi terkiat dengan AKMR/STSR. Meskipun kegiatan diadakan di saat liburan sekolah, banyak juga siswa yang datang menyaksikan dan antusias mereka sangat tinggi. Dari kegiatan ini juga ternyata masyarakat baru tahu bahwa sudah ada sekolah seni di Riau yakni AKMR/STSR,” jelas Nanda.(*6)

Sumber Foto : hukmi99.blogspot.com

Galeri Foto