Pembangunan nasional dalam masa Orde Baru yang telah membuahkan hasil yang cukup berarti, dan salah satu diantaranya adalah kemajuan di sektor pendidikan tingkat dasar, menengah dan perguruan tinggi. Ratusan ribu lulusan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) di seluruh Indonesia pada awal tahun 1980-an yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, sehingga jumlah ini tidak tertampung di perguruan tinggi negeri maupun swasta yang ada. Kondisi nasional ini juga ditemui di Provinsi Riau pada saat itu, dimana para lulusan SLTA saat itu hanya separoh yang dapat ditampung untuk masuk keperguruan tinggi baik di dalam maupun di luar daerah Riau. Penyebabnya adalah daya tampung perguruan tinggi di Riau yang terbatas dan kondisi finansial sebahagian besar orang tua atau wali siswa tidak mampu.

Saleh Djasit, S.H Gubernur KDH Tingkat I Riau pada waktu itu, beserta sejumlah pimpinan dan tokoh masyarakat, baik yang duduk dipemerintahan ataupun bergerak dalam usaha swasta, mengambil prakarsa untuk mendirikan perguruan tinggi seni swasta yang baru, guna menampung sebahagian lulusan SLTA tersebut. Dengan Surat Keputusan No. 015/YPR/2002 oleh Yayasan yang diberi nama Yayasan Pusaka Riau (YPR). Pada tanggal 25 Februari 2002 oleh Yayasan Pusaka Riau didirikan Perguruan Tinggi dengan nama Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR). Kepadanya diembankan Misi berupa mencerdaskan kehidupan bangsa dan negara sesuai dengan isi Pembukaan UUD 1945, terutama bagi lulusan SLTA atau yang sederajad yang berasal dari penduduk yang berkemampuan ekonomi lemah dan berdomisili di kabupaten / kota atau di daerah sulit dan terpencil yang mempunyaii bakat dan memperdalam bidang seni .

Kehadiran Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) ditengah-tengah masyarakat yang sedang membutuhkan pendidikan tinggi seni disebarluaskan melalui saluran berbagai media komunikasi massa seperti televisi, radio, surat kabar, dan majalah. Di daerah Riau gema telah membahana, masyarakat dan pemerintah kabupaten dan kota menyambutnya dengan gembira dan penuh harapan. Demikian pula dengan para pejabat pemerintah baik yang di pusat maupun di daerah.

Perusahaan swasta misalnya PT. Caltex Pasifik Indonesia (PT.CPI), PT. Stanvac Indonesia (PT.SI), Asia Foundation, telah pula berpartisipasi memberikan sokongan dan bantuan, begitu juga pada saat ini perusahaan seperti: Pertamina, PT. RAPP, PT. IKPP serta Surya Dumai telah pula memberikan perhatian perkembangan AKMR. Berbagai perguruan tinggi Seni memberikan sambutan dan dukungan berupa kesediaan bekerjasama dan mengadakan bimbingan. Telah terjalin kerjasama yang dikukuhkan kepada penandatanganan piagam kerjasama antara Institut Kesenian Jakarta, Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung, ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, STSI Padang Panjang.

Pada saat ini Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR) telah berdiri kukuh dan sejajar serta turut berpacu dengan perguruan tinggi seni lain di tanah air. AKMR memiliki mahasiswa pada Program Studi Seni Tari, Seni Musik, dan Seni Teater. Sarana dan prasarana tahap demi tahap telah dipenuhi. Perpustakaan, laboratorium, Studio Musik, Tari, dan Teater, workshop telah dibangun tahap demi tahap. Semuanya ini dimaksudkan dalam rangka meningkatkan kualitas para lulusan. Perkembangan ekonomi, pembangunan dan politik di tanah air dan Riau khususnya telah pula turut mewarnai perjalanan perguruan tinggi ini. Peran aktifnya di dalam pembangunan tidak dapat dimungkiri, dimana sampai saat ini telah dihasilkan sarjana sekitar empat puluh lima-an orang yang telah bekerja di tengah-tengah masyarakat. Tentu semua kita berharap semoga AKMR lebih jaya dan berperan di masa yang akan datang terutama bidang Kesenian.